Skip to Content
Loading...
Admin MTs Salafiyah
Admin MTs Salafiyah
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

“Ketika Ilmu Kehilangan Adab dan Ibadah Kehilangan Ilmu”

 


Melanjutkan seri kajian Kitab Alala tentang adab dan perjalanan menuntut ilmu

Pada pembahasan sebelumnya, bait ketujuh sampai kesembilan Kitab Alala menjelaskan keutamaan ilmu fiqih sebagai penuntun menuju kebaikan dan ketakwaan. Ilmu yang benar semestinya melahirkan sikap wara‘, membimbing perilaku, dan menjadikan seseorang semakin berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Namun, ilmu dan ibadah tidak selalu membawa kebaikan apabila keduanya tidak ditempatkan dengan benar. Seseorang bisa saja memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi tidak mengamalkannya. Sebaliknya, ada pula orang yang tampak tekun beribadah, tetapi tidak memiliki pemahaman agama yang memadai. Dua hal inilah yang menjadi perhatian dalam bait kesepuluh dan kesebelas Kitab Alala.

Bait Kesepuluh: Kerusakan Besar dari Orang Berilmu yang Tidak Menjaga Diri

فَسَادٌ كَبِيرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ * وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ

“Kerusakan yang besar adalah orang alim yang merusak dirinya, dan lebih besar dari itu adalah orang bodoh yang tekun beribadah.”

Bait ini menggambarkan dua keadaan yang sama-sama berbahaya bagi kehidupan beragama. Pertama, عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ (orang alim yang muthahattik), yaitu orang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi tidak menjaga kehormatan, akhlak, dan perilakunya. Kedua, جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ (orang bodoh yang mutanassik), yaitu orang yang tidak memiliki pemahaman agama yang memadai, tetapi menampakkan diri sebagai pribadi yang tekun beribadah.

Kata mutahattik dalam konteks ini menggambarkan seseorang yang tidak menjaga batas-batas agama dan kehormatan dirinya, meskipun memiliki pengetahuan. Ia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tetapi pengetahuannya tidak tercermin dalam tindakan.

Keadaan ini sangat disayangkan karena ilmu seharusnya menjadi pedoman bagi pemiliknya. Ketika seorang alim justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan ilmu yang disampaikannya, masyarakat dapat kehilangan kepercayaan terhadap dirinya. Bahkan, perilakunya berpotensi membuat orang lain menjauh dari nasihat dan ajaran agama.

Sementara itu, istilah mutanassik menggambarkan orang yang menampakkan kesungguhan dalam beribadah dan menjalankan praktik-praktik keagamaan. Akan tetapi, apabila kesungguhan tersebut tidak disertai pemahaman yang benar, ibadahnya dapat terjerumus ke dalam kekeliruan. Ia mungkin menjalankan sesuatu karena kebiasaan, mengikuti pendapat tanpa mengetahui dasarnya, atau bahkan menyebarkan pemahaman yang tidak tepat.

Mengapa orang bodoh yang tekun beribadah disebut lebih berbahaya?

Sebab, kesalehan yang tampak dari luar dapat membuat orang lain mudah percaya dan menjadikannya sebagai panutan. Padahal, tanpa ilmu yang memadai, seseorang bisa saja mengajarkan atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan agama. Ketekunan beribadah tidak dengan sendirinya menjamin kebenaran pemahaman seseorang.

Pesan bait ini bukan untuk merendahkan orang yang sedang belajar atau mereka yang belum memiliki pengetahuan agama yang luas. Justru, bait ini mengingatkan bahwa semangat beribadah harus disertai kesungguhan dalam menuntut ilmu. Demikian pula, orang yang telah memiliki ilmu harus menjaga perilaku agar sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Bait Kesebelas: Keduanya Menjadi Fitnah bagi Kehidupan Beragama

هُمَا فِتْنَةٌ فِي الْعَالَمِينَ عَظِيمَةٌ * لِمَنْ بِهِمَا فِي دِينِهِ يَتَمَسَّكُ

“Keduanya merupakan fitnah yang besar di tengah masyarakat, bagi orang yang mengikuti keduanya dalam urusan agamanya.”

Bait kesebelas merupakan kelanjutan langsung dari bait sebelumnya. Jika bait kesepuluh menjelaskan dua sosok yang berpotensi menimbulkan kerusakan, bait kesebelas menegaskan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.

Kata فِتْنَةٌ (fitnah) dalam konteks ini bermakna ujian, cobaan, atau keadaan yang dapat menyesatkan seseorang dari kebenaran. Adapun ungkapan لِمَنْ بِهِمَا فِي دِينِهِ يَتَمَسَّكُ menunjukkan bahaya bagi orang yang menjadikan kedua sosok tersebut sebagai pegangan dalam urusan agama tanpa sikap kritis dan pemahaman yang benar.

Orang alim yang tidak menjaga perilakunya dapat menimbulkan fitnah karena masyarakat melihat ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatannya. Ia menyampaikan kebaikan, tetapi tindakannya justru bertentangan dengan apa yang disampaikan. Akibatnya, sebagian orang dapat meragukan ajaran yang sebenarnya benar hanya karena kecewa terhadap perilaku orang yang menyampaikannya.

Sebaliknya, orang yang tekun beribadah tanpa pemahaman yang benar dapat menimbulkan fitnah melalui praktik dan pemahaman keagamaan yang keliru. Karena terlihat rajin beribadah, orang lain mungkin menganggap seluruh tindakan dan pendapatnya pasti benar.

Dengan demikian, kedua keadaan tersebut dapat merusak kehidupan beragama melalui jalan yang berbeda: yang pertama merusak kepercayaan melalui perilaku, sedangkan yang kedua berpotensi menyesatkan melalui ketidaktahuan yang dibungkus dengan kesalehan lahiriah.

Peringatan mengenai dua golongan tersebut juga ditemukan dalam sejumlah karya ulama. Dalam kitab Tashīl al-Naẓar wa Ta‘jīl al-Ẓafar fī Akhlāq al-Malik, Imam al-Mawardi mencantumkan riwayat:

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: أَهْلَكَ أُمَّتِي رَجُلَانِ: عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ وَجَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ

“Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Dua orang yang membinasakan umatku adalah orang alim yang tidak menjaga dirinya dan orang bodoh yang tekun beribadah.’”

Kutipan ini memperlihatkan bahwa peringatan dalam bait Alala memiliki kesesuaian dengan pesan yang juga dicantumkan dalam literatur akhlak dan kepemimpinan Islam. Namun, karena sumber tersebut menggunakan ungkapan وَقَدْ رُوِيَ (telah diriwayatkan), kutipan ini tidak boleh langsung dinyatakan sebagai hadis sahih tanpa pemeriksaan sanad dan penilaian ahli hadis.

Penjelasan yang lebih terperinci ditemukan dalam kitab Ḥusn al-Tanabbuh limā Warada fī al-Tasyabbuh karya Najmuddin al-Ghazzi. Di dalamnya disebutkan perkataan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib r.a.:

وَقَالَ [عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ]: قَصَمَ ظَهْرِي رَجُلَانِ: عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ، وَجَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ؛ فَالْجَاهِلُ يَغُشُّ النَّاسَ بِتَنَسُّكِهِ، وَالْعَالِمُ يُنَفِّرُهُمْ بِتَهَتُّكِهِ

“Dua orang telah mematahkan punggungku: orang alim yang tidak menjaga dirinya dan orang bodoh yang tekun beribadah. Orang bodoh menipu manusia dengan penampilan ibadahnya, sedangkan orang alim membuat manusia menjauh karena perilakunya yang tidak terjaga.”

Ungkapan فَالْجَاهِلُ يَغُشُّ النَّاسَ بِتَنَسُّكِهِ menjelaskan bahwa orang yang tidak memiliki pemahaman agama dapat membuat orang lain tertipu oleh penampilan ibadahnya. Masyarakat mungkin menganggapnya sebagai orang yang benar-benar memahami agama, padahal ia belum memiliki dasar pengetahuan yang cukup.

Sementara itu, ungkapan وَالْعَالِمُ يُنَفِّرُهُمْ بِتَهَتُّكِهِ menjelaskan bahwa perilaku buruk seorang alim dapat membuat masyarakat menjauh. Orang yang seharusnya menjadi teladan justru memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkannya.

Pesan serupa juga dicantumkan dalam kitab Al-‘Aqd al-Talīd fī Ikhtiṣār al-Durr al-Naḍīd karya al-‘Almawi. Pengulangan ungkapan ini dalam sejumlah kitab menunjukkan betapa pentingnya peringatan tersebut dalam pembahasan akhlak penuntut ilmu dan tanggung jawab orang yang memiliki pengetahuan.

Selain dua golongan tersebut, terdapat peringatan lain mengenai orang yang memiliki kemampuan berbicara dan pengetahuan, tetapi tidak dapat dipercaya dalam urusan agama. Dalam kitab Al-Jāmi‘ al-Ṣaghīr wa Ziyādatuh, Imam Jalaluddin al-Suyuthi mencantumkan riwayat:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan menimpa umatku adalah setiap orang munafik yang pandai berbicara.”

Ungkapan مُنَافِقٌ عَلِيمُ اللِّسَانِ menggambarkan seseorang yang memiliki kemampuan berbicara dan menyampaikan kata-kata yang meyakinkan, tetapi tidak memiliki kesesuaian antara apa yang diucapkan dan apa yang diyakini atau dilakukan.

Kemampuan berbicara pada dasarnya merupakan anugerah dan dapat menjadi sarana menyampaikan kebaikan. Akan tetapi, kemampuan tersebut menjadi berbahaya ketika digunakan untuk memanipulasi, membenarkan kesalahan, menyebarkan kebingungan, atau memperoleh kepercayaan masyarakat tanpa tanggung jawab moral.

Dalam kehidupan sekarang, pesan ini sangat relevan. Masyarakat dapat dengan mudah menemukan berbagai ceramah, nasihat, dan penjelasan agama melalui media sosial. Tidak semua orang yang fasih berbicara memiliki kedalaman ilmu dan keteladanan akhlak. Karena itu, seseorang perlu berhati-hati dalam memilih sumber belajar agama.

Kita tidak cukup menilai seseorang hanya dari kepiawaiannya berbicara, banyaknya pengikut, atau penampilan lahiriahnya. Perlu diperhatikan pula kapasitas keilmuan, sumber rujukan, akhlak, dan tanggung jawabnya dalam menyampaikan ajaran agama.

Dalam kitab Tashīl al-Naẓar wa Ta‘jīl al-Ẓafar, Imam al-Mawardi juga menjelaskan dampak yang dapat muncul ketika kelompok-kelompok tersebut tidak menjalankan perannya dengan benar:

فَتَصِيرُ الْبِدَعُ حِينَئِذٍ فَاشِيَةً، وَمَذَاهِبُ الْحَقِّ وَاهِيَةً، ثُمَّ يُفْضِي بِهِمُ الْأَمْرُ إِلَى التَّحَزُّبِ وَيَؤُولُ إِلَى التَّعَصُّبِ

“Pada saat itu, berbagai penyimpangan menjadi tersebar, sedangkan ajaran yang benar menjadi lemah. Kemudian keadaan tersebut dapat membawa mereka kepada pengelompokan dan berujung pada fanatisme.”

Al-Mawardi kemudian menjelaskan bagaimana fanatisme dapat berkembang ketika setiap kelompok memiliki simbol, pendukung, dan kekuatan sendiri. Ketika kelompok-kelompok tersebut merasa kuat karena banyaknya pengikut, mereka dapat semakin sulit menerima kebenaran dari pihak lain.

Dalam penjelasannya, terdapat ungkapan:

فَتَضَافَرَ جُهَّالُ نُسَّاكِهِمْ وَفَسَقَةُ عُلَمَائِهِمْ بِالْمَيْلِ إِلَى مُخَالَفَتِهِمْ

“Maka orang-orang bodoh yang tekun beribadah dan orang-orang fasik dari kalangan ulama mereka saling mendukung dalam kecenderungan untuk menyelisihi pihak lain.”

Keterangan ini memperluas pembahasan dari persoalan individu menuju persoalan sosial. Ketika orang yang tidak memiliki ilmu memegang pengaruh melalui penampilan kesalehannya, sementara orang yang berilmu tidak menjaga integritasnya, keduanya dapat saling menguatkan dalam membangun pemahaman yang keliru.

Keadaan tersebut berpotensi melahirkan fanatisme kelompok. Kebenaran tidak lagi dinilai berdasarkan dalil dan pertimbangan ilmiah, melainkan berdasarkan siapa yang menyampaikan dan kelompok mana yang mendukungnya.

Inilah salah satu alasan mengapa ilmu harus disertai akhlak, dan semangat beribadah harus disertai pemahaman. Keduanya diperlukan agar kehidupan beragama tidak terjebak dalam penampilan, kepentingan kelompok, maupun sikap saling menyalahkan.

Bait kesepuluh dan kesebelas Kitab Alala mengingatkan kita tentang dua keadaan yang dapat membawa kerusakan dalam kehidupan beragama. Orang berilmu yang tidak menjaga perilakunya dapat merusak kepercayaan masyarakat, sedangkan orang yang tekun beribadah tanpa pemahaman yang benar dapat menyesatkan orang lain melalui praktik keagamaan yang keliru. Keduanya mengajarkan bahwa ilmu dan ibadah tidak boleh dipisahkan dari akhlak dan pemahaman yang benar.

Bagi para santri, pesan ini hendaknya menjadi bahan introspeksi. Jangan sampai ilmu hanya menjadi kebanggaan, sementara perilaku tidak mencerminkan apa yang telah dipelajari. Jangan pula semangat beribadah membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan guru dan pendalaman ilmu.

Seorang penuntut ilmu seharusnya terus belajar, mengamalkan pengetahuannya, menjaga ibadah, dan memperbaiki akhlaknya. Dengan demikian, ilmu tidak menjadi sumber kesombongan dan ibadah tidak berhenti pada penampilan lahiriah.

Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan keberkahannya, sedangkan ibadah tanpa ilmu dapat kehilangan arah. Keduanya harus berjalan bersama agar melahirkan pribadi yang berilmu, beramal, dan bertakwa.

📞 INFORMASI PENDAFTARAN

Gelombang 1: 19 Oktober 2026 – 30 Januari 2027

📍 TEMPAT PENDAFTARAN

Kantor MTs Salafiyah

Pendaftaran Online : https://spmb.yayasansalafiyahkajen.com

Informasi lebih lanjut:

Salafiyah Center : 082337395321

Moh. Azka Rijal, S.Si : 082115144277

Sopandi, Lc : 081222287485

🌟 MTs SALAFIYAH

Membangun Generasi  Religius, Mahir dan Berwawasan Global!

Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga besar MTs Salafiyah.


Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?