- Diposting oleh : Admin
- pada tanggal : September 23, 2026
Oleh: Ahmad Agus Salim (Cucu sekaligus Santri)
Ditulis khidmat dalam hening doa memperingati Haul ke-28 (11 Rabi’ul Akhir 1448 H)
Mukadimah: Menatap Bayang-Bayang Wajah Sang Kyai
Di antara bilik-bilik kayu dan aroma kitab kuning yang keluar dari
sudut desa Kajen, ada sebuah nama yang harumnya tak pernah pudar oleh tiupan
masa. Beliau bukan sekadar riwayat dalam silsilah keluarga, bukan pula sekadar
untaian aksara dalam manuskrip pesantren. Bagi kami—para santri dan
anak-cucunya—beliau adalah telaga keteladanan yang airnya senantiasa
menyejukkan dahaga batin.
Dalam kanvas ingatan masa kecil penulis yang paling bening, wajah
Mbah Wahab atau yang biasa penulis panggil Mbah Roko terlukis dengan begitu
agung: tampan, teduh, bersahaja, memancarkan wibawa dan kharisma yang lahir
dari kebersihan jiwa. Setiap kali malam Jum’at menjelang, hati penulis selalu
berdegup penuh suka cita. Langkah kaki kecil bergegas untuk menginap di
kediaman beliau. Di sana, di balik pintu kayu yang selalu ramah menyambut, Mbah
Wahab akan menyisipkan selembar uang dua ribu rupiah ke dalam saku—jumlah yang
teramat besar dan penuh berkah kala itu—disertai kehangatan hidangan terlezat
dari dapur Mbah Su’adah yang disajikan dengan rasa cinta seorang nenek.
Namun, di balik kenangan manis masa kecil itu, ada samudra
perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang begitu menggetarkan jiwa.
Benih Keilmuan: Dari Karangrowo Demak Menuju Kajen Pati
Perjalanan agung ini bermula dari sebuah desa bersahaja di
pedalaman Demak, Karangrowo, Kecamatan Wonosalam. Dari rahim seorang ibu
bernama Nyai Saerah, di bawah asuhan penuh kesahajaan Kyai Yasir, lahirlah
seorang bocah bernama Syahri. Tak ada yang menyangka, anak desa berhati
jernih ini kelak ditakdirkan menjadi Sebagian pilar penopang salah satu mercusuar
keilmuan Islam tertua di pesisir utara Jawa. Kelak nama yang harum ini berganti
menjadi Abdul Wahab (Sang Hamba dari Dzat Maha Pemberi) usai menunaikan
ibadah haji di Baitullah.
Sejak belia, jiwa Syahri telah tertempa oleh kerasnya riyadhoh dan
kecintaan pada ilmu-ilmu syariat di tanah kelahirannya. Dahaga spiritual yang
tak pernah padam menuntun langkah pemuda Syahri menuju sebuah desa yang sarat
berkah para wali: Kajen, Margoyoso, Pati. Di sanalah ia menjatuhkan pilihan
untuk bersimpuh di bawah asuhan maha guru karismatik, Al-Maghfurlah KH.
Baidlowi Sirodj, di Pondok Salafiyah.
Ketekunan, keikhlasan, dan akhlak adab yang luhur menjadikan Wahab
muda begitu istimewa di mata sang guru. Ia tumbuh bukan sekadar sebagai
penuntut ilmu, melainkan menjadi santri kinasih—tempat sang guru
melabuhkan kepercayaan terdalam. Kedekatan ruhani ini berujung pada takdir yang
mulia: KH. Baidlowi Sirodj menjodohkan dan menikahkan santri kinasihnya itu
dengan putrinya sendiri, Ning Su’adah, yang saat itu masih kanak-kanak, berumur
sembilan tahun.
Pernikahan tersebut bukanlah tanda berhenti melangkah, melainkan
gerbang awal pengembaraan ruhani yang lebih terjal. Menuruti dawuh sang guru
sekaligus mertua tercinta, Wahab muda berpamitan, melangkah melintasi batas
daerah menuju Lembah Termas di Pacitan, Jawa Timur. Selama enam tahun lamanya,
ia menggembleng diri di Pesantren Termas—merengkuh sanad, membasahi bibirnya
dengan hafalan matan, dan mengasah bathiniyah hingga tuntas. Enam tahun dalam
tirakat kerinduan dan ilmu, sebelum akhirnya ia kembali ke Kajen untuk satu
tujuan suci: mengabdikan hidupnya membantu sang mertua membesarkan Pondok dan
Madrasah Salafiyah.
Kecerdasan Mbah Wahab begitu lekat di ingatan para santri. Di
lingkungan Pesantren Salafiyah, beliau masyhur dengan julukan "Kamus
Berjalan". Segala kerumitan makna dan kedalaman gramatika Arab seolah
telah menyatu di dalam kepalanya, siap tumpah ruah menjawab dahaga siapa pun
yang bertanya.
Meratukan Kekasih Jiwa di Samping Menara Khidmah
Mbah Wahab adalah manifestasi nyata dari sabda luhur, "Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya."
Di tengah kesibukan mengurus umat dan pesantren, Mbah Wahab
menorehkan teladan cinta yang membuat air mata siapapun bergetar haru. Beliau
tidak sekadar mencintai istrinya, Mbah Nyai Su’adah; beliau meratukannya.
Tak sekalipun sepanjang hidupnya terdengar bentakan atau kata kasar dari
lisannya kepada sang istri.
Bahkan, sebuah potret cinta yang begitu romantis dan sarat adab:
setiap kali Mbah Nyai hendak mandi, Mbah Wahab-lah yang secara istiqomah
merebuskan air hangat dengan kedua tangannya sendiri. Bukan karena ketiadaan
khadam atau santri, melainkan wujud penghormatan tak bertepi kepada belahan
jiwanya—yang ia pandang bukan semata sebagai istri, melainkan titipan suci dan
darah daging dari gurunya, Mbah Baidlowi.
Dari pernikahan yang penuh sakinah dan keberkahan ini, Allah SWT
menganugerahi mereka sebelas putra-putri. Hari ini, tunas-tunas zuriat Mbah
Wahab dan Mbah Su’adah telah merekah dan mengakar ke berbagai penjuru negeri:
dari belahan ujung timur pulau Jawa, Jawa Tengah, tanah istimewa Yogyakarta,
riuh Jakarta, hingga bentangan Banten di barat.
Saudagar Santri yang Berjiwa Dermawan
Mbah Wahab mengajarkan bahwa seorang santri dan pejuang agama tidak
boleh bergantung pada tangan orang lain. Kemandirian adalah marwah. Di samping
mengajar dan mengurus pesantren, beliau merintis usaha dagang kain dan
konveksi. Berkat ketekunan, kejujuran, dan berkah langit, usahanya melesat luar
biasa. Pada zamannya, beliau telah memiliki belasan mesin jahit—sebuah
pencapaian ekonomi yang sangat prestisius kala itu.
Namun, bengkel jahit dan lapak dagangnya bukan semata ladang
mengeruk dunia. Mbah Wahab merangkul para santri; beliau mendidik mereka
berniaga, mengajari mereka memotong pola dan menginjak pedal mesin jahit.
Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi ahli fikih, tetapi juga diajari berdiri
di atas kaki sendiri.
Rezeki yang melimpah ruah itu beliau kembalikan sepenuhnya ke jalan
Allah. Dari jerih payahnya, Mbah Wahab menunaikan rukun Islam kelima ke Tanah
Suci pada masa ketika samudra harus diarungi berbulan-bulan lamanya menggunakan
kapal laut. Tak hanya untuk dirinya sendiri, dengan kelapangan hati yang luar
biasa, beliau menghajikan ibu mertuanya, Mbah Nyai Hajroh (sementara sang
mertua, Mbah Baidlowi, telah berhaji sejak masa muda saat menuntut ilmu di
Makkah).
Keahlian manajerial dan kejujuran beliau menjadikannya sosok
bendahara yang tiada tanding. Beliau diamanahi sebagai Bendahara Yayasan
Salafiyah Kajen sekaligus pengatur logistik makan para santri. Tepat di samping
Musholla dan Pondok Salafiyah, berdirilah kediaman Mbah Wahab. Di pelataran dan
ruang rumahnya, berjejer rapi meja dan kursi makan panjang khusus untuk
santri-santri perantau. Setiap hari, aroma sedap masakan mengepul, memastikan
perut para penuntut ilmu terisi sebelum mereka membuka lembaran-lembaran kitab.
Amanah besar lain adalah tatkala Suronan—Haul akbar waliyullah
Syaikh Ahmad Mutamakkin Kajen. Mbah Wahab dipercaya menjadi Bendahara Lelang
Selambu Makam Mbah Mutamakkin. Selama momentum haul tersebut, rumah beliau
sering terbuka 24 jam tanpa kunci. Pintu dibuka lebar-lebar untuk memuliakan
tamu, menyambut para kiai, alumni, dan keluarga santri yang berziarah dari
seluruh penjuru nusantara. Mereka banyak yang tidur di ruang tamu dan emperan
rumah Mbah Wahab dan Mushilla Salafiyah didepannya. Bagi Mbah Wahab, tamu
adalah pembawa rahmat yang wajib dilayani laksana raja.
Firasat Cinta: "Jangankan Harta, Nyawaku Kan
Kuberikan"
Kisah kedermawanan Mbah Wahab yang paling menghujam di sanubari
diceritakan oleh ibu penulis, Nyai Syafi’ah, putri sulung beliau. Suatu ketika,
Madrasah Salafiyah berada dalam fase genting untuk perluasan gedung belajar
santri. Tanah di sekelilingnya harus dibebaskan. Namun, sang pemilik tanah saat
itu menolak dibeli dengan uang; ia hanya menginginkan tukar guling dengan
sebidang sawah produktif yang bagus.
Di kalangan keluarga kala itu, sawah dengan kriteria tersebut
sangat langka, dan hanya Mbah Wahab yang memilikinya—tanah subur simpanan masa
depan keluarga. Tanpa ragu sedetik pun, tanpa rasa sayang pada perhiasan dunia,
Mbah Wahab melepaskan sawah terbaiknya untuk ditukar demi tegaknya gedung
madrasah. Tak hanya tanah, uang pribadinya pun sering mengalir deras menutup
celah-celah kebutuhan pendidikan.
Tatkala putra-putrinya tertegun memandang kerelaan sang ayah
melepaskan aset berharga itu, Mbah Wahab menatap mereka dengan tatapan mata
yang bening dan ketegasan yang menggetarkan dada:
"Jangankan harta benda... nyawa saja, jika diminta oleh
guruku, akan kuberikan!"
Sebuah ucapan yang lahir dari puncak mahabbah dan ketundukan
murid kepada gurunya. Di mata Mbah Wahab, segala yang ia miliki adalah berkat
barokah Mbah Baidlowi, dan sudah selayaknya dikembalikan untuk memuliakan panji
perjuangan sang guru.
Kasih sayangnya kepada orang-orang di sekitarnya begitu lembut dan
menyentuh hal-hal kecil. Masyfu’, cucu pertama beliau, beserta para santri
sering berkisah dengan mata berkaca-kaca. Jika Mbah Wahab mengutus mereka pergi
jauh—ke Kudus atau ke Pati untuk membeli obat—beliau tidak hanya memberi uang
transport dan uang tebusan obat. Mbah Wahab selalu menyisipkan uang lebih ke
telapak tangan seraya berpesan:
"Iki nggo jajan... Aja nganti ngeleh nang dalan (Ini buat beli
jajan... Jangan sampai kelaparan di jalan)."
Cahaya Istiqomah: Air Wudhu, Tangis Tahajud, dan Langkah Tertatih
Hati Mbah Wahab senantiasa terpaut pada majelis ilmu. Sampai usia
senja, dahaga mengaji tak pernah padam. Setiap bulan Ramadhan, beliau sering
mengikuti tradisi posonan (mengaji kilatan kitab kuning). Bahkan, pada
saat sang mertua tercinta, KH. Baidlowi Sirodj dipanggil menghadap Ilahi, Mbah
Wahab sedang berada di tanah Rembang,
bersimpuh dalam majelis posonan.
Keteguhan beliau dalam mengajar adalah legenda bisu yang disaksikan
tiang-tiang Madrasah Salafiyah. Di hari-hari tuanya, tatkala fisiknya
digerogoti usia dan penyakit, langkahnya mulai tertatih-tatih. Namun panggilan
mengajar tak pernah ia abaikan. Dengan sabar, beberapa santri memapah tubuh
ringkihnya, meniti undakan tangga selangkah demi selangkah. Napasnya terengah,
namun binar matanya saat melihat para santri membuka kitab adalah api keabadian
yang tak kunjung padam.
Dan tatkala tirai malam menutup bumi, saat seluruh santri terlelap
dalam lelahnya muthala’ah, sebuah suara lirih selalu membelah keheningan
sepertiga malam. Yusroh, putri bungsu Mbah Wahab, menjadi saksi bisu kebiasaan
sang ayah:
"Bapak selalu terdengar menangis tersedu-sedu saat sujud
shalat tahajudnya... Dalam isak tangis itu, bapak melafalkan satu per satu nama
keluarga, memohonkan keselamatan, keshalihan, dan hidayah bagi
putra-putrinya..."
Tangisan di atas sajadah itulah yang menjadi pelita ghaib, yang
mengawal anak cucunya menembus badai kehidupan.
Hikmah dari Butiran Air Wudhu
Suatu siang di kantor Madrasah Salafiyah, seorang guru yang
merupakan santri Mbah Wahab pernah membagikan sepotong mutiara yang diajarkan
langsung kepadanya:
"Dulu, Mbah Wahab pernah mengajariku cara berwudhu secara
langsung, Mas... Kata beliau, supaya hidupmu lebih berkah dan memancarkan
cahaya di akhirat, saat membasuh anggota wudhu, lebihkanlah basuhannya. Jika
membasuh tangan, jangan berhenti di siku, naikkanlah sampai mendekati pundak.
Jika membasuh kaki, jangan hanya sebatas mata kaki, basuhlah sampai betis atas.
Sembari air mengalir, hatimu jangan lalai. Berdoalah pada setiap
basuhan:
'Ya Allah, aku membasuh wajahku, agar kelak wajah ini dapat selalu
memandang kebaikan dari-Mu di akhirat...
Aku membasuh kedua tanganku, agar kedua tangan ini terhindar dari
perbuatan tercela dan senantiasa ringan melakukan kebajikan...
Dan aku membasuh kakiku, agar kaki ini selalu tegak melangkah di
jalan ibadah kepada-Mu, melangkah menuntut ilmu dan mencari ridha-Mu...'"
Falsafah wudhu ini sejatinya adalah cerminan hidup Mbah Wahab
sendiri: beliau selalu "melebihkan" segalanya—melebihkan sedekahnya,
melebihkan kesabarannya, melebihkan khidmahnya, dan melebihkan cintanya kepada
sesama.
Kepulangan Sang Pecinta: Khusnul Khatimah
Tahun demi tahun berganti, raga yang dipenuhi amal jariyah itu
akhirnya diuji oleh Allah melalui sakit menahun. Namun, dalam sakitnya yang
panjang, tak pernah ada keluh kesah. Wajahnya tetap menampakkan ketenangan
laksana air di bejana perak.
Hingga tibalah takdir yang tak terelakkan. Pada hari Senin, 11
Rabi’ul Akhir 1420 H bertepatan dengan 25 Juli 1999 M, Mbah Wahab
menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Langit Kajen mendung, deraian
air mata para ulama, ribuan santri, dan masyarakat membasahi bumi pesisir utara
itu. Sang benteng Salafiyah telah dipanggil kembali oleh Sang Pemilik Jiwa.
Beliau berpulang dengan mewariskan kekayaan yang abadi: akhlak
mulia yang tak ternilai. Sepanjang hayatnya, beliau tak pernah marah kepada
istri, anak-anak, maupun cucu-cucunya. Mengapa? Karena di dalam darah mereka,
mengalir nasab suci sang guru, KH. Baidlowi Sirodj. Betapa agungnya adab
seorang murid, yang bahkan memuliakan anak-cucunya sendiri semata-mata karena
rasa takzimnya kepada sang guru.
Kendati memiliki banyak santri yang setia mengabdi, Mbah Wahab
pantang menyuruh-nyuruh. Selama tubuhnya masih mampu beranjak, selama kedua
tangannya masih bisa meraih, beliau memilih menyelesaikan semua kebutuhannya
sendiri. Itulah akhlak seorang arif yang tak ingin membebani orang lain.
Penutup: Warisan Abadi Sang Hamba
Mbah Wahab adalah sebuah paradoks keindahan: sosok yang kaya raya
namun bersahaja tanpa kemewahan, pendiam yang jarang bicara bila tak perlu,
namun lisannya selalu basah oleh dzikir; seorang saudagar yang hatinya zuhud
terhadap dunia.
Kecintaan beliau yang membara terhadap ilmu pengetahuan kini telah
menjelma menjadi pohon rindang yang berbuah manis. Dari rumah sederhana di
samping musholla itu, lahir generasi anak, cucu, hingga cicit yang mencintai
ilmu. Doa-doa tahajudnya di sepertiga malam telah mengantarkan keturunannya
menimba ilmu menembus batas-batas samudera—tidak hanya di seantero pesantren
Nusantara, melainkan terbang berkelana mengaji ke universitas-universitas di
berbagai penjuru dunia.
Hari ini, pada Haul ke-28 ini, harum makammu masih merebak di
sanubari kami, Mbah. Langkah tertatihmu di tangga madrasah, kucuran air hangat
yang kau siapkan untuk Mbah Nyai, serta derai tangismu di kesunyian malam akan
senantiasa menjadi suluh yang menerangi jalan kami.
Dari rumahmu, masih mengalir lantunan-lantunan mengaji para santri,
para anak cucumu akan senantiasa meneruskan bakti.
Lahu Al-Faatihah...
