- Diposting oleh : Admin
- pada tanggal : September 22, 2026
Madrasah Tsanawiyah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang terorganisir secara resmi oleh negara dan menjadi bagian aktif yang ikut andil dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Salah satu karakteristik pendidikan madrasah adalah penggunaan kitab-kitab keislaman sebagai sumber pembelajaran. Kitab inilah yang menjadi warisan para ulama yang kita kenal sebagai kitab Turats. Kitab yang dipelajari tidak hanya membahas ilmu fiqih, tauhid, nahwu, sharaf, tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, tetapi juga terdapat kitab yang secara khusus memberikan perhatian terhadap adab dan etika dalam proses menuntut ilmu.
Salah satu kitab yang cukup populer dalam tradisi pendidikan pesantren adalah Alala. Kitab ini dikenal oleh banyak santri melalui syair-syair pendek yang berisi nasihat tentang bagaimana seorang pelajar seharusnya menuntut ilmu dan menjalani kehidupan sebagai seorang pelajar. Kitab ini adalah salah satu mercusuar bagi para murid untuk mengarungi luasnya samudra keilmuan. Dengan cahaya yang dipancarkannya, murid dapat melangkah menentukan langkah yang benar dalam belajarnya.
Popularitas kitab tersebut ternyata tidak sebanding dengan populernya pengarang kitab ini. Banyak percetakan kitab yang tidak mencantumkan nama pengarangnya, sehingga banyak orang yang tidak kenal sama sekali dengan seorang ulama’ yang dikenal dengan nama Syekh Muhammad Abu Basyir Ar-Romawi. Padahal beliaulah yang berjasa dalam penyusunan kitab yang sangat fenomenal ini. Melalui tangan beliau, kitab Alala tersusun menjadi tiga puluh tujuh bait yang beliau ambil dari inti sari pengajaran yang ada di dalam kitab Ta’limul Muta’alim karya Imam Az-Zarnuji.
Maka tidak heran kalau kitab Alala ini termasuk kategori kitab yang terkenal di antara kalangan para santri. Karena kitab ini menginduk dan merujuk secara penuh dari kitab yang sangat fenomenal yaitu kitab Ta’lim yang sangat erat di telinga dan di tangan para santri. Hampir bisa dikatakan bahwa semua santri yang pernah mengenyam pendidikan di dunia pesantren maupun madrasah pastinya mendengar nama kitab ini dan mempelajarinya dari para ulama yang menerapkan dan memberi teladan dari kitab tersebut.
Disamping itu, Alala juga memiliki keistimewaan yang terletak pada bentuk penyajiannya. Pesan-pesan pendidikan yang sebenarnya cukup kompleks disampaikan melalui nazham yang singkat dan mudah dihafalkan. Bentuk tersebut memungkinkan nilai-nilai pendidikan disampaikan secara sederhana kepada santri, terutama santri pada tingkat awal.
Perlu dipahami bersama bahwa dalam tradisi pesantren, ilmu tidak dipandang semata-mata sebagai kumpulan informasi yang harus dikuasai. Ilmu berkaitan erat dengan adab, akhlak, ketekunan, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, pembahasan mengenai Alala menjadi penting karena kitab tersebut dapat dipahami sebagai salah satu representasi konsep pendidikan pesantren yang menempatkan adab sebagai bagian integral dari proses memperoleh ilmu.
Nama Alala sendiri sangat dikenal di lingkungan pesantren karena pembelajaran kitab ini dimulai dengan bait:
«أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ * سَأُنْبِيكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانِ»
Melalui awalan bait Bait tersebut, santri sering menyebutnya kitab Alala.
Melalui materi yang disampaikan dalam bentuk syair, santri mendapat beberapa aspek kemudahan yang tidak mereka dapat dari pelajaran yang materinya berupa teks prosa. adapun poin poin kemudahan tersebut, tertuang sebagaimana berikut:
mudahan untuk dihafalkan;
diulang;
dilantunkan bersama yang dapat dipadupadankan dengan nada;
diingat dalam jangka panjang;
dikaitkan dengan praktek kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut sesuai dengan tradisi pembelajaran pesantren yang memberikan perhatian besar terhadap hafalan. Akan tetapi, hafalan dalam konteks Alala idealnya tidak berhenti pada kemampuan melafalkan bait ataupun menghafalnya saja. Santri juga perlu memahami makna dan mengimplementasikan nilai yang terkandung di dalamnya.
Dari sini terlihat bahwa keberhasilan belajar tidak dipandang sebagai sesuatu yang terjadi secara instan. Seorang pelajar membutuhkan perpaduan antara kemampuan, motivasi atau semangat, kesabaran, dukungan bekal, bimbingan guru, dan waktu yang cukup.
Salah satu ciri utama Alala adalah penyajiannya dalam bentuk nazham. Penggunaan nadzom atau syair mempunyai nilai pedagogis tersendiri. Mulai dari mudah diingat atau dihafalkan, bisa dikombinasikan dengan lagu saat membacanya yang dapat menambah semangat peserta didik untuk melakukan repetisi pembelajaran hingga pada posisinya yang menjadi pedoman mudah diingat oleh para pelajar selama mereka mengenyam indahnya dunia pendidikan.
Disini kita akan membahas isi kitab ini secara bertahap dan berkelanjutan sesuai urutan yang ada dalam kitab Alala. Secara berkala, akan kami upload tema tema pembahasan runut dari kitab tersebut, dan tanpa ada pengurangan.
Syarat dalam Menuntut Ilmu
Dimulai dari bait yang berbunyi:
«أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ * سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ»
kitab ini menjelaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh ilmu secara hakiki kecuali dengan memenuhi ke-enam hal penting. Hal-hal tersebutlah yang menjadi pesan utama dari Syekh Muhammad Abu Basyir Ar-Romawi bagi seorang pelajar. Pesan tersebut kemudian dijelaskan melalui bait berikutnya:
«ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ * وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ»
Enam unsur yang disebutkan dalam bait tersebut secara umum adalah:
ذُكَاءٍ — kecerdasan atau kemampuan memahami;
حِرْصٍ — kesungguhan dan semangat;
اصْطِبَارٍ — kesabaran;
بُلْغَةٍ — bekal atau kecukupan kebutuhan;
إِرْشَادِ أُسْتَاذٍ — bimbingan guru;
طُولِ زَمَانِ — waktu yang panjang.
Dari keenam poin tersebut, kita bisa memahami bahwa Kitab Alala berpusat pada etika dan strategi seorang pelajar dalam memperoleh ilmu. Konsep ini memberikan gambaran bahwa proses pendidikan membutuhkan berbagai unsur yang saling mendukung. Dan segala aspek tersebut memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lainnya. Selayaknya istilah syarat yang mengharuskannya untuk dipenuhi tanpa terkecuali. Keenam syarat dalam memperoleh ilmu ini juga harus dipenuhi tanpa terkecuali. Jika ada satu saja yang tidak terpenuhi, maka ilmu yang diperoleh seseorang murid tersebut, bukanlah ilmu yang sebenar-benarnya ilmu, melainkan hanya sebuah bayangan dari ilmu yang hanya berwarna hitam dan datar. Lantas, seperti apa rincian keenam syarat tersebut? Di bawah ini adalah pembahasan singkatnya:
1. ذُكَاءٍ — Kecerdasan dan Kemampuan Memahami
Kata ذُكَاءٍ (dzakā'in) yang memiliki arti kecerdasan dalam bait ini menunjuk pada kecerdasan atau kemampuan seseorang dalam memahami pelajaran. Kecerdasan merupakan salah satu modal dalam belajar. Seorang murid membutuhkan kemampuan untuk memahami penjelasan guru, menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya, mengingat informasi, serta menerapkan ilmu yang telah dipelajari.
Namun, bait ini tidak berarti bahwa hanya anak yang memiliki kecerdasan tinggi yang dapat berhasil dalam pendidikan. Karena kecerdasan sejatinya dimiliki oleh setiap orang, hanya saja dari masing-masing kecerdasan tersebut memiliki daya kemampuan yang berbeda beda dan beragam. Kecerdasan justru perlu dikembangkan melalui latihan dan proses belajar.
Dalam pembelajaran di madrasah, kemampuan memahami pelajaran dapat tumbuh melalui:
rajin membaca,
aktif bertanya,
mengulang pelajaran,
berdiskusi,
mengerjakan latihan,
dan membiasakan diri berpikir secara kritis.
Dengan demikian, kecerdasan bukan alasan untuk merasa lebih unggul daripada orang lain, tetapi merupakan amanah yang harus digunakan untuk memperoleh ilmu dan memberikan manfaat.
2. وَحِرْصٍ — Semangat dan Kesungguhan
Bekal kedua adalah حِرْصٍ (ḥirṣin), yaitu keinginan yang kuat, semangat, dan kesungguhan untuk memperoleh ilmu.
Seorang siswa yang memiliki semangat belajar akan berusaha mencari pemahaman meskipun menghadapi materi yang sulit. Ketika belum memahami suatu pelajaran, ia tidak mudah menyerah. Ia akan bertanya kepada guru, membaca kembali materi, dan mencoba berlatih.
Dalam kehidupan pendidikan, semangat seringkali menjadi pembeda antara siswa yang hanya mengikuti pembelajaran dengan siswa yang benar-benar berkembang.
Kecerdasan tanpa semangat dapat membuat potensi seseorang tidak berkembang secara maksimal. Sebaliknya, siswa yang memiliki kemauan belajar yang kuat akan terus berusaha memperbaiki dirinya.
Karena itu, seorang pelajar hendaknya memiliki pertanyaan dalam dirinya:
“Apa yang dapat saya pelajari hari ini?”
Bukan sekadar:
“Kapan pelajaran ini selesai?”
3. وَاصْطِبَارٍ — Kesabaran dalam Belajar
Selanjutnya terdapat kata اصْطِبَارٍ (iṣṭibārin) yang bermakna kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi kesulitan.
Belajar tidak selalu menyenangkan. Ada materi yang mudah dipahami, tetapi ada pula materi yang membutuhkan waktu berkali-kali untuk benar-benar dikuasai.
Dalam mempelajari ilmu-ilmu keislaman, misalnya nahwu, shorof, fiqih, tafsir, hadis, maupun ilmu lainnya, seorang siswa terkadang harus membaca, menghafal, memahami, kemudian mengulang kembali materi yang sama.
Di sinilah kesabaran menjadi sangat penting.
Kesabaran dalam menuntut ilmu berarti:
tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan;
tetap belajar meskipun hasil belum terlihat;
bersedia mengulang materi;
tidak malu bertanya;
dan terus memperbaiki kesalahan.
Hasil belajar yang baik seringkali bukan diperoleh dalam satu atau dua kali pertemuan, melainkan melalui proses yang berulang dan berkesinambungan.
4. وَبُلْغَةٍ — Bekal yang Mendukung Proses Belajar
Kata بُلْغَةٍ (bulghotin) dapat dipahami sebagai bekal atau sesuatu yang dapat menunjang seseorang dalam menjalani perjalanan menuntut ilmu.
Dalam konteks pendidikan, seorang pelajar tentu membutuhkan berbagai fasilitas dan kebutuhan untuk mendukung proses belajarnya. Buku, alat tulis, tempat belajar, makanan yang cukup, pakaian, serta kebutuhan lainnya merupakan bagian dari bekal yang memungkinkan seseorang belajar dengan lebih baik.
Pesan yang dapat diambil adalah bahwa proses pendidikan membutuhkan kesiapan.
Akan tetapi, bekal dalam menuntut ilmu tidak hanya berupa materi. Seorang siswa juga perlu mempersiapkan:
niat yang baik,
kesehatan,
waktu,
mental,
lingkungan belajar,
dan kebiasaan belajar yang teratur.
Dengan bekal yang memadai, seorang pelajar dapat lebih fokus menjalani proses pendidikan.
5. وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ — Bimbingan Seorang Guru
Bagian berikutnya adalah وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ, yaitu bimbingan atau arahan dari seorang guru.
Guru memiliki kedudukan penting dalam proses pendidikan. Guru bukan hanya seseorang yang menyampaikan materi, tetapi juga membimbing peserta didik agar memahami ilmu dengan benar dan menggunakannya secara tepat.
Dalam tradisi pendidikan Islam, hubungan antara guru dan murid memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar transfer pengetahuan. Di dalamnya terdapat keteladanan, adab, pengarahan, dan pembentukan karakter.
Seorang siswa dapat membaca banyak buku dan mendapatkan berbagai informasi dari internet. Namun, keberadaan guru tetap penting untuk membantu siswa:
memahami materi yang sulit;
membedakan pemahaman yang benar dan keliru;
menentukan urutan belajar;
memberikan koreksi;
mengembangkan kemampuan;
serta membentuk sikap dan adab.
Karena itu, siswa hendaknya menghargai guru dan memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya.
Di sisi lain, guru juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik.
6. وَطُولِ زَمَانِ — Membutuhkan Waktu yang Panjang
Bekal terakhir adalah وَطُولِ زَمَانِ (wa ṭūli zamānin), yaitu waktu yang panjang.
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan pelajar saat ini. Di tengah perkembangan teknologi, banyak orang terbiasa mendapatkan informasi secara cepat. Hanya dengan beberapa sentuhan, seseorang dapat memperoleh video, artikel, atau penjelasan mengenai suatu materi.
Namun, mendapatkan informasi tidak selalu sama dengan menguasai ilmu.
Ilmu membutuhkan proses.
Seorang siswa mungkin dapat memahami sebuah materi dalam satu hari, tetapi untuk menguasainya dengan baik, ia membutuhkan latihan dan pengalaman. Demikian pula dalam mempelajari bahasa Arab. Kemampuan membaca kitab, memahami struktur kalimat, menerjemahkan teks, dan menjelaskan kandungannya tidak terbentuk secara instan.
Semua membutuhkan waktu.
Oleh sebab itu, seorang pelajar tidak perlu terburu-buru ingin menguasai semuanya. Yang lebih penting adalah istiqamah dalam belajar.
Sedikit demi sedikit, tetapi terus dilakukan, akan membentuk kemampuan yang kuat.
Keenam Bekal Harus Berjalan Bersama
Enam unsur dalam bait tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri.
ذُكَاءٍ membutuhkan حِرْصٍ agar kemampuan terus dikembangkan.
حِرْصٍ membutuhkan اصْطِبَارٍ agar semangat tidak berhenti ketika menghadapi kesulitan.
اصْطِبَارٍ membutuhkan بُلْغَةٍ agar proses belajar memiliki bekal dan dukungan yang memadai.
Semua itu membutuhkan إِرْشَادِ أُسْتَاذٍ agar perjalanan belajar mendapatkan arahan.
Kemudian semuanya membutuhkan طُولِ زَمَانِ, karena ilmu tidak diperoleh secara instan.
Dengan demikian, bait ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan belajar merupakan hasil dari perpaduan antara kemampuan, kemauan, ketekunan, dukungan, bimbingan, dan waktu.
Relevansinya bagi Santri Madrasah
Nasihat dalam bait kedua Kitab Alala sangat relevan diterapkan dalam kehidupan siswa madrasah.
Seorang siswa tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akademik. Ia perlu membangun kebiasaan belajar yang baik. Ia juga perlu memiliki adab kepada guru, menghargai waktu, serta bersedia menjalani proses pendidikan dengan sabar. (Red./MTs./SLF)
